NAVIGASI DARAT, Ilmu Penunjuk Arah

    Ketika ingin pergi ke suatu tempat yang baru, biasanya kita meminta bantuan orang lain untuk menunjukkan jalan atau menggunakan aplikasi google maps. Sadarkah kamu, bahwa kamu sedang melakukan navigasi?

Navigasi merupakan sebuah ilmu yang sering kita terapkan di kehidupan sehari-hari. Misalnya. ketika kita ingin pergi ke suatu tempat yang baru, kita membutuhkan google maps sebagai penunjuk arah. Sembari menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh google maps, kita kerapkali sadar maupun tidak sadar, menandai bangunan-bangunan atau objek-objek tertentu yang mudah diingat. Sehingga, ketika ingin ke tempat itu lagi, kita tidak perlu menggunakan google maps. Navigasi sangat berguna bagi kehidupan, bayangkan saja jika tidak ada ilmu ini. Kita akan kalang kabut mencari arah, maupun posisi kita saat ini.

Bahkan manusia-manusia terdahulu telah menggunakan ilmu navigasi, lho! Meskipun ilmu yang mereka terapkan tidak secanggih sekarang dan jauh lebih sederhana, navigasi dapat membantu mereka kembali ke rumah masing-masing. Mereka mengandalkan objek-objek alam, seperti pohon, sungai, batu dan masih banyak lagi objek yang mereka andalkan. Namun, seiring bertambahnya kecerdasan manusia, mereka pun mulai mengembangkan ilmu bernavigasi menjadi secanggih saat ini.

Sebenarnya, terdapat beberapa jenis navigasi, yaitu navigasi darat, navigasi laut, navigasi udara, dan navigasi bintang. Dalam kepecintaalaman, navigasi darat merupakan sebuah ilmu yang mesti dikuasai. Bagi pegiat alam bebas, navigasi darat bagaikan mata untuk menemukan lokasi yang dituju, dan jalan kembali untuk pulang dengan selamat. Meskipun sekarang kita hidup di zaman perkembangan teknologi yang dapat diacungi jempol, kita tidak bisa terlalu mengandalkan google maps saat di dalam hutan. Sehingga, kita perlu memahami bagaimana cara bernavigasi secara manual.

Sebelum melangkah persoalan teknik, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu mengenai alat apa saja yang diperlukan dalam bernavigasi.

1.     Peta

Peta Topografi

Peta yang digunakan dalam navigasi darat merupakan peta topografi. Peta topografi merupakan peta yang menggambarkan permukaan bumi lengkap dengan reliefnya yang dilengkapi dengan penggambaran perairan, kebudayaan, vegetasi, transportasi, toponimi, dan batas administratif. Relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk garis kontur. Garis kontur merupakan garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian dari permukaan laut yang sama. Interval garis kontur biasanya 1/2000 skala peta. Garis kontur juga digunakan untuk mengetahui kemiringan lereng sehingga dapat diketahui landai atau tidaknya suatu tempat. Semakin rapat garis kontur, maka semakin curam tempat tersebut. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf ‘U’ memiliki arti daerah tersebut merupakan punggungan gunung atau landai. Sedangkan rangkaian garis kontur yang berbentuk ‘n’ atau ‘V’ mempunyai arti daerah tersebut merupakan cerukan, lembah, jurang dan curam. Peta topografi dapat menjadi dasar bagi pembuatan peta geologi, peta geomorfologi, dan lain-lain. Peta topografi merupakan peta yang digunakan dalam melakukan kegiatan navigasi darat (Amalia, 2021) (Wikipedia, Peta, 2021).

 

2.      Kompas

Kompas merupakan alat penunjuk arah dalam navigasi. Jarum kompas mengandung magnet yang akan menunjukkan arah utara dan selatan. Akan tetapi, jarum kompas tidak menunjukkan arah utara sebenarnya, melainkan arah utara magnetis bumi. Kompas digunakan secara horizontal sesuai dengan arah garis magnet bumi. Perlu diperhatikan bahwa saat menggunakan kompas harus dijauhkan dari alat-alat yang mengandung logam (Silitonga, 2017). Dalam navigasi darat, terdapat dua kompas yang sering digunakan, yaitu kompas bidik dan kompas orienteering.

 

Setelah mengetahui alat yang digunakan dalam navigasi darat, terdapat beberapa teknik yang mesti dikuasai, yaitu 

1. Teknik Menggunakan Kompas

 a.       Centerhold

    Pertama, buka penutup kompas secara penuh sehingga lurus dengan tubuh kompas. Buka juga lensa secara penuh sehingga piringan dapat berputar bebas. Selanjutnya letakkan ibu jari pada dudukan ibu jari pada kompas, letakkan kedua jari telunjuk di sisi kanan dan sisi kiri kompas sehingga posisi kompas stabil. Pastikan kompas berada diantara dagu dan pinggang agar mudah dibaca. Untuk mengukur azimuth, putar tubuh pada point objek yang akan di bidik selanjutnya baca azimuth pada garis index tetap kompas (Serdadurimba, 2021).

Teknik Centerhold

b.      Compass-to-cheek

Buka penutup kompas/cover dan posisikan pada posisi vertikal (90 derajat). Masukkan ibu jari dudukan ibu jari pada kompas. Kompas diletakkan mendatar diatas jari telunjuk dan ibu jari, selanjutnya posisikan pembidik sedikit ke depan. Pegang kompas sejajar atau sebatas mata. Bidik point yang di inginkan melalui titik pertengahan prima atau garis rambut dan kawat bidik di tengah tutup kompas, lalu baca angka yang tertera untuk melihat azimuth melalui lensa (Serdadurimba, 2021).

Teknik Compass-to-cheek

 c.  Man to Man

Teknik Man to Man digunakan ketika navigator kesulitan dalam menentukan bidikan saat di lapangan, terutama ketika berada di hutan tropis. Sehingga kita menjadikan teman se-tim sebagai sasaran bidikan kompas. Adapun langkah-langkahnya yaitu navigator mentukan sudut kompas terlebih dahulu, kemudian leader membuka jalur searah sudut kompas sejauh mata memandang. Setelah dianggap cukup jauh, leader berbalik mengarah ke navigator, sehingga navigator bisa mengarahkan leader sesuai dengan jarum kompas. Ketika leader telah berdiri tepat di sudut yang telah ditentukan, navigator dan anggota tim bisa berjalan menuju leader. Ulangi langkah-langkah tersebut hingga sampai pada titik yang dituju (Kompas, 2019).

 2.      Orientasi Peta

Orientasi peta merupakan penyamaan kedudukan pada peta dengan medan sebenarnya, atau menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya. Adapun langkah-langkah dalam melakukan orientasi peta sebagai berikut (Silitonga, 2017) :

a.       Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang mencolok di peta dengan medan sebenarnya

b.      Letakkan peta pada bidang yang datar, bisa di permukaan tanah atau di atas batu yang memiliki permukaan datar

c.       Letakkan kompas di atas peta, kemudian samakan utara pada peta dengan utara pada kompas, sehingga letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi

d.      Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol di sekeliling dan temukan tanda-tanda tersebut di dalam peta. Lakukan beberapa kali untuk mendapatkan lebih dari satu tanda medan

e. Jika telah menemukan tanda medan yang menonjol, ingat hal-hal khas, bentuk dan tempatnya dan sesuaikan dengan tanda medan pada peta. 

a.      3.      Resection

Resection merupakan cara menentukan posisi pengamat pada peta dengan menggunakan dua tanda medan atau lebih. Semakin banyak tanda medan yang dapat dikenali, maka semakin akurat posisi pada peta. Teknik resection membutuhkan alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan (Silitonga, 2017).

Adapun cara melakukan resection yaitu :

a.       Lakukan orientasi peta

b.      Cari tanda medan yang mudah dikenali minimal dua tanda medan

c.       Gunakan busur dan penggaris untuk membuat tanda medan pada peta (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik-B2)

d.      Bidik tanda medan tersebut sehingga memperoleh sudut azhimut

e.       Pindahkan sudut back azimuth bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan

f. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus adalah posisi kita di peta. 

 

4.      Intersection

Intersection merupakan menetukan posisi suatu objek pada peta denga dua atau lebih tanda medan yang dapat dikenali. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat di lapangan, tetapi sukar dicapai atau tidak diketahui posisinya di peta. Syaratnya, sebelum intersection pengamat sudah harus yakin terlebih dahulu posisi di peta. Biasanya sebelum intersection, resection telah dilakukan terlebih dahulu (Indosurvival, 2018) (Silitonga, 2017). Adapun langkah-langkah dalam melakukan intersection yaitu :

a.       Lakukan orientasi peta

b.      Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.

c.       Bidik objek yang kita amati

d.      Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta

e.       Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah a-c

f.       Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud

 5.      Azimuth – Back Azhimuth

Azimuth merupakan sudut kompas. Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Jika seorang pengamat membidik sebuah tanda medan dan memperoleh sudut, maka sudut tersebut juga dinamakan azhimut. Apabila seorang pengamat berjalan dari satu titik ke titik lain dengan sudut kompas tetap, maka mesti diusahakan agar lintasannya berupa garis lurus. Sehingga dibutuhkan sudut dari back azimuth. Prinsip dalam azhimuth dan back azhimuth ialah membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu. Selain itu, akan memudahkan dalam melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta) (Indosurvival, 2018) (Silitonga, 2017). 

Adapun cara mendapat nilai sudut dari back azhimuth ialah jika sudut azhimuth telah diperoleh dan lebih dari 180º, maka sudut yang diperoleh dikurang 180º. Misalnya sudut yang diperoleh adalah 200º, maka 200º-180º = 20º, maka back azhimuthnya adalah 20º. Jika sudut yang diperoleh kurang dari 180º, maka ditambahkan 180º (Indosurvival, 2018).


REFERENSI

Amalia, D. (2021, April 25). Peta Topografi. Retrieved from Studiobelajar.com: https://www.studiobelajar.com/peta-topografi/

Indosurvival. (2018, November 21). Teknik Dasar Navigasi Darat. Retrieved Mei 11, 2021, from Indosurvival.com: http://www.indosurvival.com/2018/11/teknik-dasar-navigasi-darat.html

Kompas. (2019, Februari 21). BERJALAN MENURUT ARAH KOMPAS (MAN TO MAN). Retrieved Juni 9, 2021, from Pensilkompas.blogspot. com: https://pensilkompas.blogspot.com/2019/02/berjalan-menurut-arah-kompas-man-to-man.html

Serdadurimba. (2021, Juni 5). Teknik Menggunakan Kompas. Retrieved from Serdadurimba.blogspot.com: http://serdadurimba.blogspot.com/2011/06/7-4-tehnik-menggunakan-kompas.html

Silitonga, T. (2017, April 13). Swanarapala : Pengenalan Navigasi Darat. Retrieved Mei 6, 2021, from Binus.ac.id: https://student-activity.binus.ac.id/swanarapala/2017/04/pengenalan-navigasi-darat/

Wikipedia. (2021, April 16). Peta. Retrieved April 25, 2021, from Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Peta

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRANSFORMASI KERUANGAN DI KOTA YOGYAKARTA: ANALISIS PERMASALAHAN IDENTITAS TEMPAT DAN DEGRADASI MEMORI KOLEKTIF TERHADAP TATA RUANG DI YOGYAKARTA

Stalgy System (Social Digital Technology System) Inovasi Pemanfaatan Barang Tidak Terpakai Berbasis Platform Sebagai Upaya Meminimalisir Perubahan Iklim [ Karya Esai Nusantara Berkarya 2021 ]

Upaya Integrasi Perilaku Konservasi Dan Pro Energi Terbarukan Di Kepulauan Bangka Belitung Sebagai Bentuk Mitigasi Perubahan Iklim Untuk Mengatasi Fenomena Destabilisasi Cuaca Global [ Juara 3 Karya Esai Nusantara Berkarya 2021 ]