TRANSFORMASI KERUANGAN DI KOTA YOGYAKARTA: ANALISIS PERMASALAHAN IDENTITAS TEMPAT DAN DEGRADASI MEMORI KOLEKTIF TERHADAP TATA RUANG DI YOGYAKARTA

 TRANSFORMASI KERUANGAN DI KOTA  YOGYAKARTA: ANALISIS PERMASALAHAN  IDENTITAS TEMPAT DAN DEGRADASI  MEMORI KOLEKTIF TERHADAP TATA RUANG  DI YOGYAKARTA 

Rahmah Istiqomah (18/424754/SP/28302) 

Wahyu Amin Khamidah (21/483498/SV/20299) 

UNIVERSITAS GADJAH MADA 

D.I YOGYAKARTA 

TAHUN 2021



Yogyakarta menjadi salah satu kota di Indonesia yang memiliki corak tata  kelola pembangunan ruang kota yang unik. Sejak awal dibangunnya konsep kota oleh  HB I pada tahun 1756, Yogyakarta telah menjadi ikon pembangunan kota yang  menghadirkan nuansa budaya dan nilai-nilai kearifan lokal dalam pembentukan  ruangnya. Gelar kota istimewa yang didapatkan oleh Yogyakarta bukan hanya secara  historis telah berjasa terhadap Republik Indonesia, tetapi karena kota ini memiliki  penanda keistimewaan itu sendiri. Keistimewaan ruang kota yang menghadirkan  konsep sejarah, budaya peradaban manusia, posisi yang inovatif dan kreatif, serta jelas  fungsi perannya.  

Dihadirkannya konsep-konsep sosial, kenegaraan dan fungsional pengaturan  ruang kota Yogyakarta diwujudkan dalam konsep Catur Sagotra yang membagi empat  komponen kehidupan dalam satu kesatuan ruang. Empat komponen ini adalah  pemerintahan (kraton), ruang religi (rumah ibadah), ekonomi (pasar), dan budaya  (alun-alun). Konsep kedua adalah konsep Golong Gilig yang mengisyaratkan semangat  dan niat untuk menyatukan semua golongan. Konsep ini kemudian diwujudkan dalam  tugu Golong Gilig, yang letaknya berada pada garis lurus imajer dari kraton ke puncak  Merapi. Terakhir adalah konsep pengendalian dan pertahanan kota. Konsep ini  mengatur pembagian tata ruang dalam wilayah kesultanan berdasarkan struktur sosial  di masyarakat agar sultan bisa mengawasi pergerakan dari para pejabat karena tempat  tinggal mereka diatur untuk dekat dengan keraton. Kota Yogyakarta juga membangun  benteng-benteng disekeliling keraton, beberapa batalion di selatan kota, sehingga  terbentuk pola keruangan yang menggambarkan konsep kota militer.  

Setidaknya sampai awal abad 20, konsep keruangan dan aspek sosial di  Yogyakarta belum mengalami banyak perubahaan. Hingga pada era runtuhnya  kekuasaan kolonial dan menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, Yogyakarta  sebagai salah satu kota sibuk di Indonesia turut mengalami dinamika gejolak  perubahaan di masyarakat. Salah satu yang paling menonjol adalah perkembangan  jumlah penduduk yang kian tinggi. Hal ini tidak mengherankan, mengingat Yogyakarta  terkenal sebagai kota kebudayaan yang menawarkan berbagai jenis objek pariwisata 

yang mendorong adanya aktivitas ekonomi sehingga masyarakat berdatangan ke pusat  kota dimana pertukaran uang melaju cepat. Selain itu, keistimewaan Yogyakarta  sebagai ikon kota pendidikan di Indonesia dan diikuti keberadaan ratusan universitas  juga mendorong migrasi sementara maupun tetap secara besar-besaran dalam rangka  menuntut ilmu.  

Daya tarik pusat kota karena pesatnya perputaran roda perekonomian  membawa arus masuk pendatang untuk memadati pusat kota. Masuknya pendatang ke  dalam lingkup lapisan masyarakat perkotaan Yogyakarta beberapa tahun belakangan  ini akhirnya mampu memunculkan isu-isu sosial terkait eklusivitas kelompok tertentu  kaitannya dalam perebutan ruang kota dan nilai identitas dari kota yang semakin  memudar, padahal memori tentang kota di masa lalu sangat menentukan bagaimana  keberlanjutan dari penataan bangunan dan kesejahteraan penghuni kota. Contohnya,  Pasar Beringharjo, sebagai salah satu simbol yang mewakili konsep Catur Sagatra sekaligus warisan budaya perkotaan juga mulai mengalami degradasi memori kolektif  akibat pembangunan masif pertokoan modern di sepanjang jalan Malioboro.  Akibatnya, pengunjung lebih banyak melihat eksistensi Pasar Beringharjo tidak lagi  sebagai pusat warisan perkotaan, tetapi sebatas tempat perdagangan.  

Meskipun pembangunan infrastruktur dan arsitektur bangunan sangat penting,  kota pada dasarnya adalah pengalaman emosional yang hidup. Berbagai penelitian  terhadap kota-kota di dunia menunjukkan bagaimana memori kolektif dari sebuah kota  berdampak besar pada perkembangan masyarakat perkotaan. Sementara kota-kota  metropolitan termasuk kota Yogyakarta terus berkembang, apakah sebenarnya yang  menjadi implikasi dari sebuah perubahan tata ruang bagi emosionalitas penghuninya?  Perebutan Ruang Perkotaan terhadap Tingkat Stress Penduduk  

Konsep keruangan kota Yogyakarta sejalan dengan pernyataan Lynch bahwa  pembangunan kota selalu berkaitan dengan konteks waktu, latar belakang, kelas sosial,  dan ruang berperilaku. Bhabha juga mendeskripsikan ruang memiliki kaitan dengan  kekuasaan dan pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari konsep kota Yogyakarta sebagai  kota bersejarah yang dibangun dengan memasukkan unsur budaya dan nilai-nilai lokal 

sejak abad 17, yang kini telah mengalami banyak perubahaan. Meskipun dalam  pembagian konsep tata kelolanya sebagian besar masih menganut konsep  pembangunan dari HB I, namun tidak dapat dipungkiri bahwa laju perubahaan di  bidang sosial ekonomi telah ikut masuk mempengaruhi konsep tata kelola keruangan  kota Yogyakarta. 

Dalam konteks kota Yogyakarta, perubahan nyata dapat dirasakan pada  penambahan jumlah penduduk dari tahun ke tahun yang semakin mengalami  peningkatan. Dilihat dari kepadatan penduduk, kota Yogyakarta memiliki kepadatan  tertinggi. Menurut data BPS tahun 2016, jumlah penduduk di kota Yogyakarta  mencapai 417.744 jiwa. Jumlah penduduk di kota Yogyakarta mengalami fluktuasi  dengan kecendurungan penambahan yang terus meningkat. Akibat yang ditimbulkan  oleh perkembangan kota adalah pergeseran fungsi-fungsi ruang perkotaan yang tidak  semestinya. Seperti permasalahan alih fungsi ruang hijau dan tata ruang warisan  budaya menjadi arena kegiatan ekonomi, atau permasalahan kemacetan merupakan  bagian kecil dari contoh alih fungsi lahan perkotaan. Hal ini dipandang sebagai bagian  dari proses negosisasi masyarakat perkotaan akibat perebutan ruang yang semakin  meluas. Ruang saat ini sudah termasuk ke dalam alat produksi. Seperti analisis yang  telah dikemukakan oleh Marx, bahwa perebutan ruang di perkotaan merupakan bagian  dari perebutan alat-alat produksi, karena penguasaan terhadap ruang memungkinkan  penguasaan ekonomi yang lebih besar. 

Isu Sosial Kontemporer di Tata Ruang Publik Kota Yogyakarta 

a. Alih Fungsi Ruang Hijau Perkotaan 

Peningkatan jumlah penduduk di kota Yogyakarta diiringi dengan  meningkatnya permintaan terhadap ruang. Masyarakat pendatang atau mereka  yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan ruang bermukim, akhirnya  menempati ruang hijau perkotaan. Menurut Peniti Pusat Studi Transportasi dan  Logistik (Pustral) UGM, negosiasi perebutan ruang oleh masyarakat yang tidak  mampu mendapatkan tempat tinggal dilakukan dengan memanfaatkan ruang 

terbuka hijau seperti bantaran sungai untuk membangun tempat tinggal. Hal ini  berdampak pada menurunnya permukaan air tanah. Berdasarkan penelitian  PSPPR UGM tahun 2016 lalu, terdapat kebih dari seratus sumber mata air yang  berada di sekitar tiga sungai yang mengalir di wilayah Kota Yogyakarta, yakni  sungai Code, Winongo, dan Gajahwong. Namun, sumber mata air ini tidak  dirawat dengan baik, justru digunakan penduduk untuk lahan pemukiman,  sehingga apabila dibiarkan dalam jangka panjang akan berpengaruh pada  kualitas sumber daya air.  

b. Ruang Publik yang Dipenuhi Polusi 

Kota Yogyakarta memang dikenal dengan kota dengan tujuan wisata, dan  pendidikan. Laju pertumbuhan penduduk diiringi dengan penambahan volume  kendaraan di kota-kota. Wright dalam Disappearing City (1932) menjelaskan  bahwa kehadiran kendaraan di kota-kota besar modern sudah hal biasa. Tetapi,  apabila volume kendaraan terus bertambah maka akan menimbulkan  permasalahan baru dimana ruang-ruang kota dipenuhi oleh kendaraan dan  polusi. Dalam kasus kota Yogyakarta, ruang publik seperti Malioboro dan  pusat-pusat menuju daerah wisata di kota umumnya terjadi kemancetan akibat  volume kendaraan bermotor. Ruang publik yang seharusnya menjadi ruang  bersama untuk menikmati suasana kota, justru dipenuhi oleh polusi udara. 

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaningastuti menjelaskan bahwa  di tahun 2020 muncul tren peningkatan gejala stress pada penduduk di wilayah kota  Yogyakarta. Penelitian Candra Gustika mengenai hubungan kepadatan ruang terhadap  tingkat stress, menjelaskan bahwa urbanisasi serta aktivitas industri memberikan  dampak signifikan pada unsur cuaca dan dinamika lingkungan yang berpengaruh pada 

suhu lingkungan yang menjadi panas dan kering. Hal tersebut yang menyebabkan  turunnya tingkat kenyamanan termal tubuh saat melakukan aktivitas. Turunnya  kenyamanan termal pada manusia menyebabkan ketidakseimbangan antara manusia  dan parameter lingkungan, sehingga berdampak pada kondisi fisiologis dan psikologis 

manusia. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa kota Yogyakarta yang selama beberapa tahun terakhir mengalami pembangunan masif serta urbanisasi besar-besaran  mendekati daerah perkotaan, kemungkinan besar adalah jawaban dari fenomena heat  stress yang terjadi pada sebagian penduduk kota Yogyakarta.  

Memahami Isu Kontemporer melalui Pendekatan Psikologi Lingkungan dan  Teori Rasional Komunikatif Jurgen Habermas 

Pada awalnya, isu keruangan dipandang sebagai penerapan desain fisik pada  lahan pemukiman. Artinya, konsep pembangunan murni dilakukan untuk mengatur  ruang-ruang di masyarakat. Nigel Taylor (1998) mengurangikan perencanaan  perkotaan (urban planning) pada masa awal PD II dalam beberapa komponen, yakni :  perencanaan kota sebagai perencanaan fisik, aspek desain adalah sentral pada  perencanaan, dan perencanaan kota meliputi pembuatan master plan (desain fisik) yang  menunjukkan ketepatan konfigurasi spasial pengunaan lahan dan bentuk kota yang  dihasilkan oleh arsitek atau insinyur. Namun, seiring berkembangnya jaman dan isu isu sosial yang juga berdampak pada psikologis manusia mulai bermunculan di  perkotaan, pendekaan keruangan ini mulai mendapatkan berbagai kriitik. Diantaranya  mengkritik pendekatan keruangan cenderung bersifat social blindness, karena  dianggap kurang memperhatikan aspek kehidupan sosial di wilayah perencanaan.  Contohnya, seperti penggusuran rumah-rumah di kota besar untuk kepentingan  pembangunan keruangan baru atau pemberian ijin pembangunan pada daerah-daerah  rawan bencana.  

Kasus tata kelola ruang publik di jogja sebenarnya sudah melibatkan ketiga  aspek yang akan mempengaruhi kebijakan managemen perkotaan, seperti social  development, spatial development, dan economic development. Tetapi faktanya, masih  banyak permasalahan isu kontemporer seperti kepadatan penduduk dan perebutan  ruang-ruang publik di perkotaan yang berimplikasi pada psikologis penduduk. Kebutuhan masyarakat akan tersedianya ruang baik untuk tempat tinggal, bekerja, 

olahraga dan nongkrong, pada akhirnya mendorong dilakukannya diskusi terkait  pemecahan permasalahan tersebut.  

Teori identitas tempat dan keterikatan tempat yang ditawarkan oleh rumpun  psikologi lingkungan menunjukkan bagaimana dan di mana kita hidup ternyata  memiliki dampak emosional dan fisik yang mendalam, termasuk mempengaruhi rasa  percaya diri, kepemilikan, dan tujuan makna dalam hidup. Melihat bagaimana ruang  menjadi perebutan di kota, dan munculnya dominasi tertentu pada bangunan perkotaan,  penulis merasa bahwa kota memiliki kebutuhan mendesak akan psikologi perkotaan. Salah satu metode yang digunakan untuk melihat dan mendengarkan apa yang  sebenarnya diinginkan oleh penduduk perkotaan dalam membangun wilayah tempat  tinggalnya, yakni dengan meminjam teori pendekatan rasional komunikatif yang  merupakan turrunan teori komunikatif Jurgen Habermas, untuk menyelesaikan  permasalahan kurangnya keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan tata  kelola ruang. Pendekatan rasional komunikatif memungkinkan masyarakat untuk ikut  memberikan saran, dan mengungkapkan apa saja permasalahan yang dihadapi terkait  ruang.  

Helbert Kelman dan John Burton menjelaskan bagaimana kebutuhan psikologis  dasar harus dipenuhi, termasuk perihal persengketaan sebelum kemajuan tata ruang  wilayah kota disepakati. Persengketaan yang dimaksud oleh Kelman & Burton bukan  hanya tanah dan kekuasaan, tetapi bagaimana pemerintah dan pihak berkepntingan  mampu menciptakan mengembalikan identitas serta memori kolektif kota Yogyakarta  sebagai kota nyaman, termasuk memberi rasa hormat, hak atas identitas budaya,  kesempatan berpartisipasi, rasa keadilan.

Penutup 

Tata ruang kota Yogyakarta yang terkenal sebagai kota budaya, pariwisata, dan  pendidikan memang selalu menarik untuk dibahas. Dari latar belakang historis,  pengelolaan tata ruang kota Yogyakarta sudah tergolong sistematis karena  menghadirkan konsep-konsep yang berkaitan juga dengan pola sosial dan ekonomi di  masyarakat. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa laju jaman juga menghadirkan  permasalahan baru seperti kepadatan penduduk akibat dari urbanisasi yang  berimplikasi pada perubahaan fungsi ruang-ruang kota. Isu kontemporer seperti  ekslusivitas, kemacetan, polusi udara, sampai perebutan terhadap ruang, akan  berpengaruh pada psikologi penghuninya sehingga berdampak pada peningkatan  potensi stress, bosan, penurunan produktivitas dan kebahagiaan penduduknya. Kondisi  ini semakin meyakinkan bahwa harus ada kebijakan yang mengatur ulang mengenai  tata kelola ruang agar ruang-ruang yang sudah ada tidak menimbulkan permasalahan  baru. Penulis memberikan saran bagaimana pembangunan kota dapat selaras dengan  harapan penghuninya, yakni melalui survei City Personality Test atau Tes Kepribadian  Kota melalui pendekatan rasional komunikatif untuk mengetahui perasaan masyarakat  tentang lingkungan dan kota mereka. Pada akhirnya, harapan membangkitkan memori  kolektif akan Yogyakarta sebagai kota nyaman mampu membangun ketahanan  psikologi, beradaptasi, dan mampu menyediakan kondisi di mana penduduk dapat  mencapai tujuan serta mimpi yang lebih besar. 


Daftar Pustaka 

Adams, M. (2021). Critical psychology and climate change. Journal of Psychology,  13-18. 

Basundoro, P. (2012). Pengantar Sejarah Kota. Ombak. 

Faizah, A. N., & Hendarto, M. (2013). ANALISIS DIFUSI KERUANGAN DI  SEKITAR KAWASAN PERKOTAAN YOGYAKARTA. Diponegoro Journal  of Economics, 2(3), 1-9. 

Hubbard, P. J. (1992). Environmental Behaviour Studies and City Design: A New  Agenda for Research? Environmental Psychology, 269-279. 

Jong, E. d., & Twikromo, A. (2017, Februari). Friction within harmony: Everyday  dynamics and the negotiation of diversity in Yogyakarta, Indonesia. Journal of  Southeast Asian Studies, 48(1), 71-90. 

Maftuhin, A. (2017, Mei). MENDEFINISIKAN KOTA INKLUSIF: ASAL-USUL,  TEORI DAN INDIKATOR. Tata Loka, 19(2), 93-103. 

Lewicka, M. (2008). Place attachment, place identity, and place memory: Restoring  the forgotten city past. Journal of Environmental Psychology, 209-231. Prihatin, R. B. (2015, December 23). Alih Fungsi Lahan di Perkotaan (Studi Kasus di  

Kota Bandung dan Yogyakarta). Urban Land Missue

Rachmawati, R. (2016). Inclusive Cities: The New Issue in Urban Development.  Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 79. RPJMD Kota Yogyakarta. (2017). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah  Kota Yogyakarta Tahun 2017-2022. Segoro Amarto. 

Stanek, L. (2011). Henri Lefebvre on Space: Architecture, Urban Research, and the  Production of Theory. University of Minnesota Press. 

Sunaryo, R., Nindyo, & Ikaputra. (2011). The Transformation of Urban Public Space  in Yogyakarta A Search for Specific Identity & Character. 

Suryanto, Djunaedi, A., & Sudaryono. (2015, Desember). Aspek Budaya Dalam  Keistimewaan Tata Ruang Kota Yogyakarta. Jurnal perencanaan wilayah dan  kota, 26(3), 230-252


BIODATA PENULIS 

Rahmah Istiqomah 

Perkenalkan nama saya Rahmah, saat ini sedang menjadi menjadi mahasiswa  semester akhir di prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,  Universitas Gadjah Mada. Sebagai mahasiswa sosiologi, saya tertarik pada isu  gender, energi, dan juga perkotaan.  

E-mail : rahmahistiqomah@mail.ugm.ac.id 

Instagram : heyrahmaah



Wahyu Amin K

Pembahasan mengenai ruang perkotaan adalah suatu hal yang baru bagi saya,  namun karena studi saya yang sangat berkaitan dengan petumbuhan perkotaan,  membuat saya akhirnya sadar bahwa berdiskusi dengan lintas perspektif menjadi  sangat menyenangkan. Saat ini saya sedang menempuh S1 di prodi Ekonomi  Terapan, Universitas Gadjah Mada. Silakan menyapa saya melalui email  wahyuamin99@mail.ugm.ac.id



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stalgy System (Social Digital Technology System) Inovasi Pemanfaatan Barang Tidak Terpakai Berbasis Platform Sebagai Upaya Meminimalisir Perubahan Iklim [ Karya Esai Nusantara Berkarya 2021 ]

Upaya Integrasi Perilaku Konservasi Dan Pro Energi Terbarukan Di Kepulauan Bangka Belitung Sebagai Bentuk Mitigasi Perubahan Iklim Untuk Mengatasi Fenomena Destabilisasi Cuaca Global [ Juara 3 Karya Esai Nusantara Berkarya 2021 ]