Hujan Bulan Desember
![]() |
| Doc. Rumah pak Petani Desa Ere Kab.Barru |
"Selalu
ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam, semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda, saya selalu suka sehabis hujan di bulan
Desember" Efek rumah kaca.
Sepenggeal lirik yang menuntunku
menjelajahi gunung di kabupaten Pangkep atau biasa di sebut Bulu Sorongan. Menurut KBBI, definisi gunung adalah
"Bukit yang sangat besar dan tinggi (biasanya tingginya lebih dari 600 m).
Bulu Sorongan terletak di antara perbetasan kabupaten Pangkep dan Barru dengan
ketinggian kurang lebih 700 Mdpl.
Petualangan dimulai dari basecamp Marabunta yang biasa kami sebut
Sarang Hijau yang terletak di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar.
Kami mengenderai motor dari kota Makassar menuju kabupaten Pangkep dengan jarak
tempu sekitar dua jam. Sebelum tiba di tujuan kami mampir di rumah kanda Merkurius,
salah satu anggota koloni Marabunta untuk makan dan beristirahat sejenak.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan hingga kami tiba di desa terakhir di
kecamatan Sigeri, kabupaten Pangkep sekitar pukul 20.00 wita dengan aungan
anjing yang beramai-ramai bersorak gembira menyambut kedatangan kami. Kemudian
kami beristirahat di teras posandu dan memulai memasak untuk makan malam. Malam
itu kami lewati dengan breafing,
mempersiapkan peralatan dan managemen perjalanan. Karena ini merupakan
pendidikan lanjut Berkelana Navigasi Darat atau biasa disingkat Navrat, kami
membagi dua tim, tim Navrat dan tim Hore,
tim Navrat bertugas untuk membuka jalur dari desa menuju Bulu Pakka dan finish di puncak Bulu Sorongan. Kemudian
tim hore bertugas menyemangati dan menyambut tim navrat dipuncak Bulu Sorongan
dengan melewati jalur umum yang sudah ada sekitar 3-5 jam tergantung kondisi
fisik dan cuaca.
Tim navrat kemudian dibagi lagi jadi
tiga kelompok kecil yang terdiri dari tiga anggota yang belum melulusi
pendidikan lanjut dan ditemani satu pendamping. Tim navrat yakni Aztec (saya),
Aborigin, Arya, Badui, Eskimo, Indian, Mongolia, Viking, kak Tanah dan kak
Logam yang merupakan satu satunya perempuan yang mengikuti Navrat, serta
didampingi oleh kak Neptunus, kak Saturnus dan Kak Mars. Setelah selesai breafing dan makan malam, kami pun
beristirhat. Pagi hari selepas sarapan kami bersiap untuk melakukan navrat, hal
yang selalu kami lakukan sebelum berkegiatan yakni melingkar sambil merangkul
yang biasa kami sebut lingkaran koloni. Pemberian amanah dari ketua dan anggota
koloni, berdoa dan ditutup dengan teriakan MARABUNTA! MARABUNTA! MARABUNTA! Kemudian
dilanjutkan dengan melakukan survei atau sosialiasi penduduk yamg bertujuan
untuk mengumpulkan data awal tentang kondisi desa, gunung, jalur, sumber
air, flora dan fauna serta norma
masyarakat yang dianut yakni hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di gunung
atau desa tersebut. Kami juga meminta izin dan memberitahukan kegiatan kepada
tokoh masyarakat setempat. Setelah itu kami menentukan titik kordinat kami pada
peta.
Hal pertama yang dilakukan yakni
orientasi peta, menyamakan utara peta dengan utara sebenarnyaa menggunakan
kompas. Setelah itu melakukan resection,
prinsip resection adalah menentukan
posisi kita di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang
dikenali. Saya menembak dua buah puncak gunung yang terlihat mengunakan kompas
bidik dan memindahkan sudut yang saya dapat ke peta. Setelah itu menggunakan
protektor untuk melihat sudut kita pada peta, kemudian menarik garis lurus dari
titik yag ditembak tadi atau biasa disebut Azimuth-back azimuth. Azimuth adalah
sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat dan back
azimuth merukan sudut baliknya atau berlawanan. Perpotongan garis perpanjangan
dari dua sudut yang didapat adalah posisi objek yang dimaksud. Setelah itu kami
menentukan jalur yang akan dilewati berdasarkan kontur yang terdapat pada peta.
Oh iya, di sini saya tidak akan menjelaskan terlalu banyak teknik navrat
melainkan akan bercerita tentang kondisi perjalanan ketika melakukan navrat.
Setelah mengetahui kondisi jalur yang cukup aman kita lewati berdasarkan
orientasi peta tadi kamipun berjalan dengan tetap menerapkan prinsip navrat,
perjalanan dimulai melewati kebun warga, tak lupa kami menyapa warga setempat
yang sedang duduk di gubuk, sambil
bercengkrama, kata warga belum ada orang
yang melewati jalur yang akan kami lewati karena jalurnya memiliki tebing dan
jurang, namun katanya biasanya terdapat beberapa hewan yang melewati jalur
tersebut salah satunya sapi. Hal tersebut memancing motivasi saya untuk tambah
bersemangat karena sapi saja bisa, apa lagi kita manusia yang diberikan akal
pikiran.
Perjalanan dilanjutkan menyusuri kebun dan
sawah, hujan mulai turun dan memaksa
kami untuk berteduh mendirikan shelter
dengan menggunaan flysheet sambil
mengahatkan air untuk menyeduh kopi dan teh. Sungguh nikmat melewati sore
dengan secankir teh disugukan pemandangan sawah yang hijau diiringi alunan
suara hujan yang berirama seolah menjadi musik pengantar tidur, hujan
melahirkan aroma khas yang merusuk kalbu menenangkan hati dan pikiran. Zona
nyaman tercipta sore itu, namun kami tidak boleh larut didalamnya karena ada
tujuan yang ingin dicapai, keluar dari
zona nyaman secara perlahan melanjutkan perjalanan sehabis hujan redah.
Sesampainya di sebuah persimpangan terdapat dua jalur, kami pun mengambil jalur
kanan yang mengarah ke sebuah bukit dan hutan. Kami berjalan berbaris dengan Indian
dan Viking sebagai leader sekaligus
penebas semak-semak untuk membuka jalur. Semakin kami berjalan, hutan semakin
rapat dan langkah kami terhenti. Setelah Indian menemukan sarang ular tepat
berada di depannya. Kami pun memutuskan untuk memilih memutar balik karena
tidak ingin menganggu habitat ular tersebut. Kemudian sampai di persimpangan
kami memilih mengikuti arus sungai. Hari mulai larut, matahari pun mulai redup
menandakan sebentar lagi malam akan tiba. Kami memutuskan untuk mendirikan
tenda karena tidak di anjurkan berjalan malam di hutan yang belum kami kenali
kondisinya. Kami mendirikan tenda di dekat sebuah gubuk kebun, kemudian kami
mengumpulkan kayu bakar dan mulai memasak dan makan. Saya dan beberapa anggota
koloni memilih beristirahat di bawah gubuk. Gubuk ini seperti rumah panggung
kecil yang di bawahnya terdapat ruang untuk berteduh. Sambil menyalakan api
bekas masak tadi untuk menghangatkan tubuh dan juga mengeringkan beberapa
pakaian yang basah. Serta kaos kaki yang
bauhnya tidak bisa didefinisikan lagi, hidung pun menolak mencium aromanya.
Ketika beristirahat saya melepaskan sepatu dan mengenakan sandal gunung untuk
berkegiatan di sekitar tenda. Saat tidur saya meletakan sandal di dekat
perapian dengan tujuan mengeringkannya, namun setelah terbangun saya melihat
sendal telah berubah bentuk menjadi setengah bagian, karena terlalap oleh api
semalam. Sungguh sial malam itu saya harus kehilangan sandal baru yang pada
malamnya masih sempat saya menatap dan mengucapkan selamat malam padanya. Hiks.
Pagi hari, kami melanjutkan perjalanan
dengan kondisi fisik yang sudah mulai segar. Menyusuri hutan dan di sini
petualangan menantang dimulai. Jalur yang tadinya landai kini mulai menukik,
menaiki bukit memasuki hutan yang mulai tertutup. Kami tidak bisa melakukan resection karena tidak dapat melihat
puncak hanya dikelilingi oleh pepohonan dan akar yang menjulang tinggi serta
terdapat beberapa binatang melata yang konon katanya merupakan hewan yang
paling lambat ketika pergi sekolah,
dikarenakan harus mengikat tali sepatu yang hampir mencapai seribu. Sayapun
sempat tidak percaya bahwa kakinya seribu, kucoba untuk menghitungnya tetapi
selalu gagal karena kakinya tidak pernah beehenti bergerak dan disitu saya
berkesimpulan iya cocokmi seribu
kakinya dari pada capek menghitung. Dikarenakan tidak dapat melakukan resection kamipun sepakat beristirahat
sambil menyiapakan makan siang dan sebagian orang termasuk saya mencari posisi
yang terbuka memungkinkan untuk melakukan resection. Setelah berhasil dan menentukan jalur kami pun
melanjutkan perjalanan menyusuri hutan yang tadinya rapat kini mulai terbuka
dengan pemandangan rumput ilalang dan beberapa tebing yang terdapat air terjung
musiman. Kami mendaki gunung dengan menggunakan kaki dan tangan seperti menaiki
wall tapi kali ini point yang
dipegang ialah akar dan rumput, ya nyawa
kita bergantung pada seberapa kuat gengaman tangan dan rumput itu, tidak berhenti disitu jalur yang kami lewati
cukup extream, hanya sekitar setengah
meter lebar jalur, kiri dan kanannya terdapat jurang yang cukup dalam. Salah
satu anggota koloni yakni Arya sempat terjatuh namun masih bisa diselamatkan
oleh carriernya dan berkat keberenaianya itu kini dia menjadi tentara. Hujan
mulai turun kembali mengiringi perjalanan kami.
Setelah sampai di puncak Bulu Pakka, kami harus melewati tebing yang curam
untuk menyeberang dengan posisi hanya bisa dilewati satu orang dan berjalanan
miring seperti gaya Spiderman ketika memanjat gedung. Di sini saya sempat ragu karena melihat
kondisi jalur yang berbahaya, tapi di sisi lain kalo saya tetap tinggal di sini
saya bisa terkena hipotermia karena hujan yang deras dan angin yang berhembus
kencang. Saya kemudian memutuskan untuk tetap berjalan menyusuri tebing dengan
langkah perlahan dan gemetar sambari dalam hati terus menyebut nama sang
Pecipta dan beristighfar melewati tebing yang biasa disebut dengan istilah
jalur angin karena mungkin hanya angin yang melewatinya, sempat menatap ke arah
bawah jurang dan membayangkan betapa sakitnya ketika terjatuh, namun dengan
melihat perjuangan saudara yang lain, saya pun masih terus berjuang dengan
mengalihkan pandangan fokus melihat ke arah saudara yang lain yang lebih dulu
berada di sebelah tebing hingga berhasil melewatinya. Akhirnya kami sampai di
pungungan Bulu Pakka dan memutuskan untuk camp karena memiliki spot yang cukup
untuk kami mendirikan tenda. Dikarenakan
kami berada di punggungan sekitar puncak, sumber air minim hanya ada kubangan
bekas hewan mungkin babi atau rusa karena terdapat kotoran dan jejak kaki hewan
disekitar kubangan itu. Sangat tidak direkomendasikan untuk mengonsumsi air
bekas kubangan karena terdapat kuman bakteri yang banyak. Kami pun menampung
air hujan yang menggunakan ember dan jergen,
sesekali juga saya mencoba minum air hujan langsung dari sumbernya
dengan menampunya di gelas tanpa dimasak,
rasanya seperti minum air kemasan,
ada manis manis kaccinya.
Setidaknya dapat mengganjal dahaga. Malam harinya cuaca sudah mulai
bersahabat, hiasan bintang bersinar
bagaikan lampu diskotik di Nusantara dan cahaya lampu kota Pangkep yang dapat
terlihat jelas memanjakan mata. Bulu
pakka dan Bulu Sorongan terletak bersebelahan jadi kita bisa melihat dengan
jelas jika ada cahaya senter pendaki yang berada di puncak Bulu Sorongan.
Dikarenakan letak dua puncak bulu ini tidak jauh dari desa jadi masih terdapat
signal untuk menelpon.
Malam itu kami sempat berkomunikasi dengan
tim hore lewat telpon, menanyakan kabar dan kondisi yang dialami, kami pun
sepakat untuk memberikan kode lampu menggunakan headlamp, suasana haru terjadi ketika kita hanya bisa saling
menatap cahaya lampu headlamp yang
dikedipkan berulang kali, namun tidak
dapat bertatap muka langsung. Seharusnya malam ini kami sudah berada di puncak Bulu
Sorongan sesuai jadwal yang telah dibuat. Keesokan harinya dengan berbagai
pertimbangan estimasi waktu dan juga rangsum yang mulai menipis kami pun
memutuskan untuk tidak melanjutkan navrat ke puncak Sorongan. namun di sisi
lain juga kami mepertimbangkan tidak ingin melewati kembali jalur yang kemarin
untuk pulang karena akan lebih berbahaya, kamipun mencoba melihat kembali peta
dan menemukan ada sebuah desa di balik gunung,
jadi kamipun memutuskan untuk menuju ke desa tersebut. Kami berjalan menurungi bulu dengan sambutan
hangat kabut yang menutupi jarak pandang,
sesekali saya menengok ke belakang melihat ke arah puncak Bulu Sorongan
dan berkata dalam hati "ini belum berakhir, nanti di lain waktu kita akan
berjumpa kembali," kamipun terus
berjalan dan hujan kembai turun membasahi membuat langkah terasa berat dan
tubuh mulai menggigil namun kami memilih untuk terus berjalan hingga kami
melihat hamparan sawah dari kejauhan,
membuat kami bersemangat kembali,
berteriak dan bernyanyi membayangkan makanan lezat coto, buras dan nasi kuning
nenek yang menanti di makassar. Jalur yang kami lewati banyak terdapat semak
berduri yang berlomba memberikan coretan tatto pada tangan, kaki dan wajah
ketika melintasinya.
Tadinya kami menggunkan parang untuk
menebas semak semak yang menutupi jalur, kini kami menggunakan tangan dan
hempasan cariel, saking semangatnya saya dan sebagian anggota membuka jalur
dengan cara melompat kearah semak semak hingga terjatuh di sebuah lubanng dengan
posisi kepala mendarat duluan dan kaki yang menghadap ke langit, tapi tak apa itu sebuah kesenagan tersendiri
karena bisa membuat yang lain juga tertawa.
Namun kesenangan itu mulai luntur setelah langkah kami terhenti oleh
sebuah sungai yang memiliki arus sangat deras, untuk mencapai desa kami harus
melewati sungai tersebut, namun tidak
ada jembatan yang tersedia, kami mencoba
segala cara dengan mencari batang pohon yang telah tumbang namun tidak
berhasil, hari sudah mulai gelap, kami lalu breafing
di pinggir sungai untuk mempertimbangkan apakah kita nge-camp di sini atau tetap lanjut,
namun air sungai mulai meluap membanjiri kaki sehingga kami memutuskan
untuk tetap lanjut, kamipun berusaha mencari jalan, Indian melihat sebuah pipa
air dan mencoba untuk menyeberang mengecek kondisi di sebelah sungai, namun ternyata setelah Indian kembali dia
mengatakan masih ada sungai lagi di depan yang juga lebih besar, kami pun mencoba mencari jalan lain,
menyusuri sungai, memutar masuk kembali kedalam hutan, hingga mendapatkan sungai yang cukup dangkal
setinggi dada orang dewasa, namun tetap memiliki arus yang deras, terdapat
bekas jembatan bambu yang mulai roboh dan tidak memungkinkan untuk dilewati,
lalu kami mencari beberapa batang bambu, kemudian bergotong royong membuat
jembatan. Lalu sebagian anggota koloni berbaris di sungai saling bahu membahu
memberikan bahu untuk menguatkan jembatan bambu di atas bahunya sembari
sebagian anggota koloni yang lain lewat di atas jembatan menyeberangkan carrier
agar tidak basah. Sungguh kerjasama yang
baik. Setelah berhasil melewati sungai kami pun melewati sawah yang berlumpur,
ada yang berjalan, berlari dan ada pula yang merangkak tak sanggup lagi untuk
berjalan karena sudah lelah, sesampainya
di sawah kami bertemu dengan malaikat berwujud seorang petani yang sedang
membajak sawah sembari berbincang, pak petani itu mengarahkan kami untuk
beristirahat di rumahnya. Sesampainya dirumah kami segera mandi dan
membersihkan diri, terlihat kaki yang
mulai melepuh mati rasa saat kubuka sepatu, bibir yang berwarna ungu
keputian, suara yang mulai hilang dan
serak serak becek serta hidung yang tersumbat oleh lendir berwarna hijau
cendol. Namun semua mulai redah setelah secankir teh hangat dicampur dengan
jahe mengembalikan imun tubuh menjadi segar, kuat tanpa obat.
Saya sempat berpikir untuk lanjut berjalan
menuju desa tempat kami menitipkan motor, dikarenakan besok merupakan hari
kuliah, namun kata bapaknya desa Ere menuju poros cukup jauh, sehingga saya memustukan untuk tetap menunggu
bantuan datang bersama rombongan dikarenakan juga masih terdapat jatah untuk
alpa. Di desa Ere untuk mendapatkan
jaringan cukup unik, saya harus menempelkan hp ke dinding yang terdapat paku
untuk menangkap jaringan dan berkomunikasi dengan tim hore untuk dijemput.
Serta juga mengabari orang di rumah yakni nenek dan kakak jikalau saya bakal
telat sehari untuk pulang ke Makassar. Keesokan harinya tim hore datang dengan
mengendarai motor, kami pun berpamitan dan meninggalkan desa Ere sambil gotik
bagaikan terong dicabein hehhe. Ternyata betul yang dikatan pak Petani tadi
jarak desa menuju poros memang jauh,
karena jalan memutar melewati beberapa bukit dan jalur yang berbatu,
krikil lepas serta dipenuhi lumpur yang membuat beberapa motor sempat mogok.
Namun hal tersebut dapat diatasi dengan bantuan anggota koloni lain dan warga
yang melintas. Kami pun tiba di titik awal yakni posyandu sembari bersorak
gembira disambut oleh anggota koloni lain yang telah menunggu kedatangan kami.
Disuguhkan bakwan, pisang goreng dan teh hangat. Oh iya, sebelum pulang masih
terdapat kendala lagi yakni misteri hilangnya kunci motor Viking, setelah
berulang kali membongkar tas tidak ditemukan kunci motornya, kami pun
membongkar motor dan memasang stank kontak baru, Kemudian melanjutkan
perjalanan pulang menuju makassar.
Sungguh pengalaman menarik yang takkan terlupakan.
Ada beberapa cerita yang masih saya ingat
tidak sempat saya masukan tadi, ketika di Bulupakka pace kak Logam sempat menelpon dan menanyakan posisi kak logam
"dimana?.. Di kostnya temanku, "ah di Gunung mana?". Sempat
terdengar perdebatan antara ayah dan anak, Dan cerita lain ketika sedang masak
di punggungan Bulu Pakka, Abo memasak kerupuk dan Arya datang dengan modus ingin
membantu tapi malah ikut mencicipi beberapa kerupuk, modus yang digunakan arya yakni pura pura
bertanya "sudah ada yang masak cika?" Abo pun yang mengetahui modus
Arya mengakalinya dengan menjatuhkan beberapa kerupuk, Arya yang kelaparan pun tetap mengambilnya
sambari berkata belum 5 menit. Oh iya, setelah beberapa hari tiba di Makassar,
ketika saya mencuci tas ternyata kunci motor viking ada terselip didalam
kantong tas saya hehehe.
Itulah
tadi cerita pengalaman saya di Marabunta. Sebenarnya masih panjang bisa seperti
novel cuman dipersingkat agar tidak membosangkan, walaupun terdapat typo dan
masih banyak lagi cerita-cerita yang menarik.
Ayo
Anggotakoloni yang lain kita bercerita
tentang MARABUNTA.
{Aztec, NRK-013-IV-MRB/2018}

Pendidikan Lanjut Navigasi Darat, Pangkep 2016
BalasHapus