PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PRILAKU DAN PENDAPATAN PETANI
PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PRILAKU DAN PENDAPATAN PETANI
Oleh:
Muh Hendri
200204622039
Muhammad Putra Pratama
200204622034
Andi Dzaki Mas’ud
200204622030
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR MAKASSAR
2021
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan saja, tetapi juga pada perilaku, fisik dan mental manusia. Perubahan iklim dapat mengkibatkan perubahan cuaca yang sangat ekstrim, sehingga menimbulkan beberapa perubahan perilaku dan mental manusia. Pemanasan global selama abad terakhir telah mengakibatkan perubahan iklim yang telah menjadi isu paling penting dalam kebijakan pembangunan dan global governance pada abad ke 21. Sebagian besar dari kejadian bencana tersebut merupakan bencana lingkungan hidup seperti angin puting beliung, banjir dan tanah longsor, yang sangat dipengaruhi oleh gejala perubahan iklim (Suharko, 2014). Pemanasan global selama abad terakhir telah mengakibatkan perubahan iklim yang sangat berpengaruh terhadap sektor pertanian karena sektor ini memiliki ketergantungan tinggi pada kondisi iklim.
Negara-negara sedang berkembang lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim dibanding negara-negara maju karena predominansi sektor pertanian tadah hujan, kelangkaan modal untuk melakukan langkah-langkah adaptasi, baseline iklim yang lebih hangat, serta ekspose yang lebih tinggi terhadap kejadian-kejadian ekstrim (Chapagain, 2019). Dengan demikian, iklim sangat mempengaruhi prilaku dan pendapatan petani, karena perubahan iklim akan membawa perubahan besar pada habitat dari berbgai spesies binatang, tanaman, dan berbagai organisme lain. Perubahan iklim juga, berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat. Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi tetapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam terutama kehipan manusia, seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan lahan pertanian, dan ekosistem wilayah pesisir. Naylor (2007), mengemukakan bahwa perubahan iklim menunjukkan gejala yang mengindikasikan adanya ancaman terhadap keberlanjutan produksi pangan di Indonesia. Seluruh dunia telah mengakui bahwa pemanasan global
telah berimbas pada hampir semua aspek kehidupan. Dampak yang paling dirasakan adalah terjadinya perubahan iklim yang merata di seluruh belahan bumi.
PEMBAHASAN
Isi
Perubahan iklim sangat mempengaruhi prilaku dan pendapatan petani, karena perubahan iklim bisa membuat tanaman maupun tanah petani menjadi bermasalah, sehingga mengakibatkan pendapatan petani menjadi menurun dan dengan pendapatan petani yang menurun juga akan mengakibatkan perubahan prilaku terhadap petani.
Dalam kehidupan sehari–hari, iklim memiliki pengaruh yang cukup besar pada jenis tanaman dan pertumbuhan tanaman untuk dibudidayakan pada suatu kawasan. Dengan kondisi iklim tertentu dapat menyebabkan produktivitas tanaman menjadi naik ataupun turun. Dengan adanya pengaruh iklim terhadap pertumbuhan tanaman para petani perlu mengetahui kecocokan tanaman pada kondisi iklim di kawaasan tersebut. Ilmu klimatologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang iklim seperti perubahan iklim masa lalu dan masa depan. Kondisi iklim memiliki beberapa unsur atau komponen diantaranya adalah suhu, angin, kelembaban, penguapan, curah hujan, serta lama dan intensitas penyinaran matahari (Nawawi, 2021). Unsur-unsur yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman antara lain tempratur udara (oC), kelembaban udara (%), intensitas cahaya (W/m2 ), dan curah hujan (mm). Dengan adanya data-data dari komponen iklim dan data-data dari syarat tumbuh tanaman maka dapat diketahui seberapa besar pengaruh iklim terhadap tanaman dan yang akan berpengaruh pula pada hasil produksi tanaman tersebut.
Kejadian iklim ekstrim diantaranya adalah El Nino atau La nina, peningkatan suhu permukaan laut, dipole mode, dan angin musim timuran atau baratan telah mempengaruhi musim hujan di Indonesia. Wilayah kering seperti Nusa Tenggara Timur diduga sangat rentan terhadap perubahan iklim global. Hal tersebut akan berdampak serius terhadap sistem usahatani yang didominasi oleh lahan tadah hujan. Informasi sejauh mana terjadi perubahan perilaku usahatani dan bagaimana
kecenderungan pola perubahan perilaku tersebut penting sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pemerintah dan metode diseminasi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Disamping itu perubahan perilaku usahatani akan berpengaruh terhadap aspek ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat setempat. Teori lain menyatakan bahwa perilaku manusia adalah hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan yang merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan yang datang dari luar atau dari dirinya sendiri (Sarwono, 1993). Perilaku dalam bertani tidak jauh berbeda dengan perilaku manusia dalam bertani upaya pemenuhan kebutuhan pangannya. Pengalaman dan informasi tentang perubahan iklim yang terjadi akan membentuk keyakinan dan mempengaruhi perilaku dalam bertahan hidup dan menghindari risiko kerugian akibat perubahan iklim. Beedell dan Rehman (2000) menyatakan bahwa petani dengan kesadaran penelitian lingkungan yang hebat dengan cara manajemen petani serta kesadaran untuk melakukan tindakan konservasi. Oleh karena itu, perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap prilaku dan pendapatan terhadap petani, iklim yang esktrem akan menyebabkan dampak yang negatif terhadap ekonomi petani, karena cuaca yang ekstrem kejadian cuaca atau kondisi iklim yang tidak biasa dan dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan ekosistem alam, peristiwa ini bisa berlangsun dengan singkat, seperti hujan lebat, tornado, siklon tropis, gelombang panas, dan banjir.
Surmaini (2011), menyatakan bahwa kegiatan pertanian menyumbang 14% emisi dari total emisi pada tahun 2000 dan sumber terbesar (97%) berasal dari produksi beras dan pembakaran biomassa. Di masa depan, produksi tanaman pangan akan menghadapi tekanan dari ketersediaan air, curah hujan, dan serangan organisme gangguan tanaman. Untuk daerah tropis, penurunan produksi diperkirakan sebesar 10- 20% sejalan dengan kenaikan suhu lokal 1 - 5℃. Dengan demikian, bahwa dari perubahan iklim tanaman pangan akan terancam menghadapi tekanan dari ketersediaan air, curah hujan dan serangan organisme tanaman yang akan membuat tanaman diserang dengan penyakit, sehingga para petani harus mengambil langkah untuk
mengatasi ancaman tersebut. Bagaimana agar petani terhidar dari perubahan iklim yang buruk yang menyebabkan tanaman terserang oleh penyakit dan menurangi pendapatan petani? Pertama, adaptasi yang dapat dilakukan oleh petani untuk menghadapi perubahan iklim diantaranya :
➢ Memperoleh pengetahuan dan informasi terkait perubahan iklim, peringatan dini dan sistem informasi iklim
➢ Menyesuaikan kalender tanam dan jenis komoditas yang akan ditanam ➢ Memilih dan mengembangkan jenis dan varietas tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim diantaranya tahan kekeringan, tahan genangan dan tahan terhadap air payau
➢ Menerapkan teknologi hemat air, sistem irigasi berselang dan efisiensi penggunaan air seperti irigasi tetes dan pemberian mulsa
➢ Melakukan penanaman lebih dari satu jenis tanaman (tumpang sari) ➢ Mengembangkan teknologi pengelolaan tanah dan tanaman untuk meningkatkan daya adaptasi tanaman
➢ Mengembangkan sistem integrasi tanaman-ternak (crop livestock system atau CLS) untuk mengurangi resiko dan optimalisasi penggunaan sumber daya lahan.
Adanya upaya adaptasi ini diharapkan dapat mengatasi ancaman perubahan iklim terhadap sektor pertanian diantaranya yaitu kegagalan panen yang berakibat pada penurunan produktifitas dan ancaman lingkungan seperti peningkatan emisi gas rumah kaca dan lain-lain. Aksi adaptasi-mitigasi perubahan iklim oleh petani di daerah beriklim kering cenderung sporadis, spekulatif dan berisiko tinggi.Tindakan sebagai tindakan adaptasi berkontribusi pada perubahan keseimbangan arus pasar input dan output, terutama bagi petani di sawah irigasi. Kegiatan dalam sistem pertanian dan sistem pangan di musim ekstrim memiliki mendorong peningkatan permintaan pupuk, benih dan tenaga kerja. Bagi petani dengan sistem permodalan yang lemah, upaya adaptasi terhadap perubahan iklim cenderung menyesuaikan sistem penyediaan pangan dan pola konsumsi. Jika tidak bagi petani yang memiliki modal kuat, akan lebih banyak
berinvestasi dalam aspek pertanian, misalnya dengan meningkatkan intensitas tanam, membeli mesin pengolah tanah (traktor), mesin untuk panen dan lain-lain. Kedua, mensisipkan gen tertentu pada tanaman tersebut (dengan cara transgenik/rekayasa genetika). Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah disisipi atau memiliki gen asing dari spesies tanaman yang berbeda atau makhluk hidup lainnya. Penggabungan gen asing ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman dengan sifat-sifat yang diinginkan, misalnya pembuatan tanaman yang tahan suhu tinggi, suhu rendah, kekeringan, resisten terhadap organisme pengganggu tanaman, serta kuantitas dan kualitas yang lebih tinggi dari tanaman alami. Oleh karena itu, petani harus mampu beradaptasi dengan cuaca atau perubahan iklim sebagai antisipasi serangan penyakit yang disebabkan oleh perubahan iklim, apabila petani sudah mampu beradaptasi dengan perubahan iklim yang harus dilakukan selanjutnya adalah bagaimana memelihara tanaman dengan baik yaitu dengan, memberikan pupuk yang sesuai, memberikan racun, dan lain-lain, sehingga tanaman menjadi tumbuh dengan sehat yang akan membuat pendapatan masyarakat khususnya petani akan terus meningkat.
KESIMPULAN
Perubahan iklim telah merubah perilaku terutama bagi pendapatan masya rakat usahatani sebagian besar petani di daerah iklim kering di Indonesia. Perubahan perilaku berupa langkah-langkah penyesuaian yang bertujuan untuk mempertahankan kehidupan (coping). Perubahan perilaku bersifat adaptif dalam sistem budidaya terutama terjadi pada iklim ekstrim basah. Perubahan tersebut antara lain pada aspek pola tanam, penggunaan pupuk, varietas, dan kualifikasi benih. Sejalan dengan perubahan aktifitas tersebut, diikuti pula dengan terjadinya perubahan dalam aliran pada input dan output. Kecenderungan yang terjadi adalah terjadi peningkatan permintaan input pada tahun ekstrim basah sebagai langkah adaptif terhadap ketersediaan air. Namun, peningkatan input tidak sebanding dengan output (produksi) karena tingginya faktor resiko pada kondisi ekstrim basah seperti serangan hama, kebanjiran dan peningkatan biaya usahatani. Kondisi ini sangat rentan terhadap ketahanan pangan. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa perubahan perilaku sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim dapat berupa perubahan perilaku pada sistem pertanian dan perubahan perilaku pada sistem pangan.
DAFTAR PUSTAKA
Beedell, J.,T. Rehman. (2000) Using social-psychology models to understand farmers’ conservation behaviour. Journal of Rural Studies, 6, 117–127.
Chapagain, B.K., Subedi, R., dan Paudel, N.S. 2009. Exploring local knowledge of climate change: some reflections. Journal of Forest and Livelihood, 8, 108-112.
Nawawi, G. (2001). Pengantar Klimatologi Pertanian. Bandung:Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruaan Jakarta.
Naylor, R.L., Battisti, D.S., Vimont, D.J., Falcon, W.P., dan Burke, M.B. 2007. Assessing risks of climate variability and climate change for indonesian rice agriculture. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 104(19), 7752-7757.
Sarwono, 1993. Sosiologi Kesehatan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Suharko. 2009. Pencegahan Bencana Lingkungan Hidup Melalui Pendidikan Lingkungan. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 21(2), 254-260.
Surmaini, E. E. Runtunuwu dan I.Las. 2011. Upaya sektor pertanian dalam menghadapi perubahan iklim. Jurnal Litbang Pertanian, 30(1), 1-7.
Komentar
Posting Komentar