Mengatasi Perubahan Iklim Dengan Meningkatkan Self Efficacy Melalui Metode Expresive Writing [ Juara II Karya Esai Nusantara Berkarya ]
oleh Muh. Anshary Arma Arsyad, Ulva Dwyyanti
Problematika terkait isu krisis
iklim akhir-akhir kian mencuat. Fenomena
banjir bandang, kebakaran
hutan, longsor, terancam punahnya berbagai spesies flora dan fauna kian dikaitkan dengan krisis
iklim. Lantas, apakah yang dimaksud dengan krisis iklim?
Krisis
iklim secara garis
besar dipengaruhi oleh perubahan suhu dan pola cuaca. Laporan
yang dikeluarkan oleh United Nation mengenai perubahan
iklim menyebutkan bahwa
perubahan iklim disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan menghasilkan emisi gas rumah
kaca sehingga tercipta
seperti selimut yang membungkus bumi, menjebak panas matahari dan
menaikkan suhu.
Laporan
yang dirilis tahun
2021 itu lebih
lanjut menjelaskan bahwa konsentrasi gas rumah kaca berada pada tingkat
tertinggi dalam 2 juta tahun terakhir, dan kian meningkat. Kondisi bumi saat ini lebih hangat sekitar 1,1
derajat Celcius daripada di akhir
thaun 1800. Dalam dekade terakhir (2011-2020) adalah rekor terpanas. Laporan lain dari Local Government for
Sustainability tahun 2021 mengutip The Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) menunjukkan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer
saat ini berada
pada posisi tertinggi
dalam 2 juta tahun terakhir, kenaikan permukaan laut adalah
yang tercepat dalam 3000 tahun dan es laut Arktik
berada pada level terendah setidaknya dalam 1000 tahun
terakhir.
Indonesia sendiri melalui laporan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tahun 2021 menunjukkan bahwa suhu udara telah mengalami peningkatan. Dalam rentang tahun 1981-2010 suhu udara di Indonesia sebesar 26,6 derajat celcius dan suhu udara rata-rata tahun 2020 sebesar 27,3 derajat celcius. Artinya, dalam rentang 10 tahun tahun terakhir telah terjadi peningkatan suhu udara sebesar 0,7 derajat celcius. DIlansir dari presentasi yang dilakukan oleh salah satu tim dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa diprediksi suhu Indonesia meningkat 0,5 hingga 3,92 derajat celcius tahun 2100, intensitas curah hujan lebih tinggi dan durasi hujan pendek di Sumatera bagian utara dan Kalimantan sedangkan curah hujan rendah dan durasi panjang bagian selatan Jawa dan Bali, dan kenaikan air laut mencapai 175 cm tahun 2100 (Riszky, 2021).
Laporan yang dirilis United Nation
berjudul Climate Action juga
menjelaskan dampak yang dapat terjadi
jika suhu bumi kian meningkat, yaitu kekeringan hebat, kelangkaan air, kebakaran luar biasa, naiknya permukaan laut,
banjir, pencairan es kutub, badai
dahsyat, dan penurunan keanekaragaman hayati. Dampak perubahan iklim juga dapat memengaruhi kesehatan,
kemampuan untuk menanam pangan, perumahan,
keselamatan, dan pekerjaan. Dampak perubahan iklim sangat rentan bagi masyarakat yang tinggal di negara
kepulauan kecil dan negara berkembang. Di
masa mendatang diprediksikan bahwa jumlah “pengungsi iklim” diperkirakan akan meningkat.
Dilansir dari Katadata tahun 2021
menunjukkan bahwa penyumbang emisi gas rumah
kaca terbesar per tahun 2018 berturut-turut adalah Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, dan Rusia.
Lebih lanjut, sumber emisi karbon global berasal
dari pemakaian listrik dan pemanas, industri, transportasi. Menurut United Nation tahun 2021 menjelaskan bahwa
perubahan iklim juga dipengaruhi oleh aktivitas
manusia. Sejak tahun 1800 manusia telah menjadi pendorong utama bagi perubahan iklim, terutama akibat
pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.
Haryanto dan Prahara tahun 2019
mengemukakan bahwa kondisi iklim dan cuaca
yang terjadi saat ini disebabkan oleh manusia itu sendiri. Cara agar dapat mengatasi perubahan iklim dan cuaca
membutuhkan kesadaran akan perilaku pro lingkungan.
Manusia harus mulai menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan diperlukannya penguatan
aturan terkait lingkungan sebagai regulasi yang menaungi.
Haryanto dan Prahara tahun 2017 mengemukakan bahwa untuk mengatasi perubahan iklim maka diperlukannya perubahan gaya hidup manusia daripada penggunaan teknologi ramah lingkungan. Pendekatan penggunaan teknologi ramah lingkungan kurang tepat untuk diterapkan dibandingkan melakukan perubahan perilaku melalui gaya hidup, karena saat ini persepsi terhadap alam adalah objek, sehingga membuka peluang bagi manusia untuk melakukan eksploitasi. Haryanto dan Prahara tahun 2019 mengemukakan berbagai solusi yang harus dilakukan manusia, yaitu:
- Memiliki perilaku makan yang tidak merusak bagi alam (tidak membuang- buang makanan dan mengurangi konsumsi daging).
- Meningkatkan pertanian dan pengelolaan lahan yang tepat (penanaman pohon).
- Meningkatkan penggunaan transportasi umum (menggunakan kendaraan umum atau sepeda dibandingkan kendaraan pribadi, mobil atau mobil).
- Meningkatkan perilaku penggunaan energi dan material yang pro lingkungan (menggunakan lampu hemat energi dan produk plastik dan kertas daur ulang).
Meningkatkan perilaku penggunaan energi dan material
yang pro lingkungan (menggunakan lampu hemat energi dan produk plastik dan kertas
daur ulang). Haryanto dan Prahara tahun 2019 lebih lanjut menjelaskan bahwa saat ini perilaku
pro lingkungan masyarakat Indonesia masih berada pada kategori rendah, sehingga dibutuhkan intervensi yang dapat meningkatkan perilaku pro lingkungan. Individu yang percaya
bahwa perubahan iklim
disebabkan oleh faktor
alam dan terjadi
secara alamiah dapat menjadi penguat
bahwa permasalahan krisis
iklim merupakan hal yang berada di luar kendali manusia. Keyakinan tersebut akhirnya akan menjadi penghalang dalam diri individu
untuk dapat berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan
krisis iklim. Salah satu cara agar individu
meyakini bahwa dirinya dapat menyelesaikan suatu persoalan adalah dengan memiliki
self efficacy yang
tinggi.
Mayer
dan Smith tahun 2019 mendefinisikan self efficacy
merupakan keyakinan pada kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Penelitian yang dilakukan oleh Simanjuntak tahun 2016 menemukan
bahwa self efficacy memiliki hubungan yang positif dengan perilaku pro
lingkungan. Artinya, semakin tinggi self
efficacy yang individu miliki
maka semakin tinggi perilaku pro lingkungan. Temuan ini memberikan pemahaman terkait betapa pentingnya self efficacy untuk mengatasi krisis iklim. Salah satu cara agar dapat
meningkatkan self efficacy melalui
metode expressive writing.
Intervensi yang dilakukan Nichols, Schutte, Brown, Dennis, dan Price dalam penelitiannya tahun 2007 menunjukkan bahwa expressive writing dapat meningkatkan self efficacy. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Wibawa tahun 2019 menjelaskan bahwa melalui expressive writing dapat membuat individu lebih sadar dan mampu untuk mengontrol dirinya. terkait Expressive writing tidak selalu merujuk pada teknik menulis pengalaman traumatis, tapi dapat juga berupa menulis pengalaman positif. Menulis pengalaman positif seperti kesuksesan masa lalu, pengalaman kesuksesan individu lain yang berkesan, dukungan dari lingkungan, dan keadaan fisik serta afeksi dapat meningkatkan atribut positif yang dapat memengaruhi self efficacy.
Penelitian dari Wibawa pada tahun 2019 menjelaskan terkait prosedur yang dapat dilakukan jika ingin menggunakan teknik expressive writing. Sebelum pelaksanaan diperlukan untuk memilih tema expressive writing mengenai pengalaman kesuksesan di masa lalu, pengalaman kesuksesan orang lain yang berkesan, dan dukungan dari lingkungan sekitar dalam proses pencapaian keberhasilan. Pada saat pelaksanaan, peserta dikumpulkan dalam ruangan untuk menghindari variabel lain yang dapat mengganggu konsentrasi pada saat menulis, seperti suhu, kebisingan, dan pencahayaan. Adapun prosedur pelaksanaan, yaitu:
- Mengumpulkan partisipan dalam ruangan.
- Eksperimenter mengukur tingkat self efficacy.
- Pemberian expressive writing selama 6 hari berturut-turut dengan durasi 20 menit setiap sesi.
- Setelah menjalani expressive writing selama 6 hari peserta diukur kembali tingkat self efficacy.
Adapun instruksi
expressive writing pada tiap sesinya, yaitu:
“Untuk 6 hari kedepan, silahkan
saudara menuliskan pikiran
dan perasaan paling dalam tentang
pengalaman keberhasilan saudara.
Saudara dapat menuliskan pengalaman mengenai kesuksesan yang pernah dialami
dalam bentuk apa pun. Saudara juga dapat menuliskan dukungan-dukungan dari orang di sekitar
dalam proses pencapaian keberhasilan. Saudara juga bias menuliskan pengalaman kesuksesan orang-orang di sekitar yang berkesan. Saudara
dapat mengaitkan pengalaman tersebut dengan relasi terhadap
sesama, temasuk orang tua, pacar,
atau teman-teman. Saudara juga dapat mengaitkan topik tersebut dengan masa lalu, apa yang terjadi
sekarang, atau gambaran mengenai masa depan saudara.”
“Saat menulis, saya meminta saudara untuk bercerita sedetail mungkin. Saudara diharapkan untuk mengungkapkan seluruh pikiran dan perasaan yang paling dalam saat mengalami pengalaman tersebut. Tidak perlu memedulikan tata cara penggunaan bahasa yang baik dan benar. Ketika saudara mulai menulis, jangan berhenti sampai waktu habis. Waktu penulisan 20 menit. Semua yang saudara tuliskan akan dijaga kerahasiaannya.”
Penelitian yang dilakukan Pennebaker tahun 1997 mengemukakan bahwa manfaat lain
dari expressive writing, yaitu
pekerja kantoran menjadi lebih sering masuk
kerja dan pelajar memperoleh nilai yang lebih baik. Selain itu, penelitian Lepore dan Greenberg tahun 2002 juga
mengungkap bahwa expressive writing mampu mengurangi gejala pada penyakit
yang diderita pasien, membuat mood lebih
baik, dan gejala stres terhadap
pengalaman traumatik menjadi
lebih berkurang.
Melihat data krisis iklim yang tiap
tahun kian memburuk dengan berbagai dampak
yang dapat terjadi, tim penulis dengan ini mengajak semua elemen untuk dapat mengatasinya secara bersama. Menyadari
bahwa krisis iklim bukanlah sebagai kondisi alam yang secara alamiah
terjadi, tapi sebagai konsekuensi dari aktivitas
keseharian kita, manusia. Meningkatnya self
efficacy pada individu dapat membuatnya
lebih tahu dan paham dengan tindakan yang dapat merusak alam, sehingga berdampak pada krisis iklim. Maka
dari itu, diperlukannya upaya yang serius bagi setiap elemen,
pemerintah dan institusi
pendidikan, dalam menggunakan metode expressive
writing guna meningkatkan self efficacy.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisik (BMKG). (2021). Ekstrem perubahan iklim. Diakses pada tanggal 19 Desember 2021 dari https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=ekstrem-perubahan-iklim.
Haryanto, H. C., & Prahara, S. A. (2017). Yakinkah dengan adanya perubahan iklim?. INQUIRY: Jurnal Ilmiah Psikologi, 8(2), 88–99.
Haryanto, H. C., & Prahara, S. A. (2019). Perubahan iklim, siapa yang bertanggung jawab?. Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 21(2), 50. doi.org/10.26486/psikologi.v21i2.811.
Katadata.co.id. (2021). Laporan perubahan iklim pb, koder merah untuk masa depan bumi. Diakses pada tanggal 19 Desember 2021 dari https://katadata.co.id/sortatobing/berita/6112246ac9226/laporan-perubahan- iklim-pbb-kode-merah-untuk-masa-depan-bumi.
Lepore, S. J., & Greenberg, M. (2002). Mending broken hearts: Effect of expressive writing on mood, cognitive processing, social adjustment and health following a relationship breakup. Psychology and Health, 17(5), 547-560. doi: 10.1080/08870440290025768.
Local Government for Sustainability. (2021). Faster, more intense, with more devastating impacts: New ipcc report lays out the scientific basic of the climate emergency. Diakses pada tanggal 19 Desember 2021 dari https://talkofthecities.iclei.org/faster-more-intense-with-more-devastating- impacts-new-ipcc-report-lays-out-the-scientific-basis-of-the-climate- emergency/?gclid=Cj0KCQiAqvaNBhDLARIsAH1Pq529cKyXZmb0RD5ThS OcgmuGCItINIOuP6NA1Qp6h06MTX8EMfZbbkwaAkNiEALw_wcB.
Mayer, A., & Smith, K, E. (2019). Unstoppable climate change? The influence of fatalistic beliefs about climate change on behavioral change and willingness to pay cross-nationally. Climate Policy, 19(4), 511-523, doi: 10.1080/14693062.2018.1532872.
Nichols, J., Schutte, N, S., Brown, R, F., Dennis, C, L., Price, I. (2007). The impact of a self-efficacy intervention on short-term breast-feeding outcomes. Health Education and Behavior, -(-), 1-9. doi: 10.1177/1090198107303362.
Pennebaker, J. W. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process. Journal of Psychological Science, 8(3), 162-166.
Riszky, M. (2021). Krisis iklim dan peran anak muda. doi: 10.13140/RG.2.2.34564.45447.
Simanjuntak, P, M. (2016). Perilaku bertanggung jawab lingkungan siswa.
IJEEML: Indonesian Journal of Enviromental Education and Management. 1(2), 59-65.
United Nation. (2021). Climate Action. Diakses pada tanggal 19 Desember 2021 dari https://www.un.org/en/climatechange/what-is-climate-change.
Wibawa, A, A. (2016). Pengaruh expressive writing pada efikasi diri. Skripsi. Universitas Sanata Dharma, Fakultas Psikologi.
Komentar
Posting Komentar