Lovindo: Inovasi Aplikasi Digital Budaya Indonesia Sebagai Upaya Rekonstruksi Krisis Perilaku Dan Pemahaman Masyarakat Dalam Bingkai Kebudayaan Era Pandemi [ Karya Esai Nusantara Berkarya 2021 ]

 oleh Dhifah Amaliyah, Medi Elfiani


Latar Belakang

Adanya pandemi Covid-19 telah merubah tatanan peradaban kehidupan sosial manusia. Perubahan-perubahan itu terjadi tanpa dikehendaki dan direncanakan oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Terhitung sejak Maret 2020, pandemi akibat COVID-19 di Indonesia belum juga berakhir. Aktifitas masyarakat terhambat sejak adanya Pandemi Covid-19. Penyebaran Covid-19 yang melalui kontak langsung dengan penderita mendorong munculnya kebijakan social distancing, PSBB, work from home, lockdown, bahkan PPKM. Terbitnya kebijakan tersebut tak lain adalah untuk menekan laju tingginya jumlah pasien yang terpapar Covid-19. Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sektor dalam negara. Bidang yang tak kalah penting dan ternyata berdampak signifikan karena adanya pandemi Covid-19 adalah bidang sosial budaya. Semua kegiatan beralih fungsi, yang mulanya serba tatap muka, menjadi daring atau dalam jaringan. Sehingga memicu terjadinya permasalahan terkait kriris perilaku masyarakat salah satunya, yaitu; diskriminasi ras.

Tindakan diskriminasi semain meningkat lantaran adanya pandemi, tercermin pada sikap curiga satu sama lain yang mulai terlihat. Hal ini sangat kontradiktit atau bertentangan dengan karakter bangsa Indonesia yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang membahas terkait tindakan diskriminasi selama pandemi. Penelitian (Chung- Ying, 2020) menyebutkan bahwa telah terjadi diskriminasi ras di beberapa Negara asia selama pandemi Covid-19. Dalam penelitian tersebut diungkapkan bahwa masing-masing ras mengalami ketakutan jika berinteraksi terhadap rasa tau tiap suku yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan lantaran


 

 

adanya pandemi yang mendorong masyarakat untuk mengurung dan berdiam diri di rumah, tanpa bersosialisasi dengan orang lain, tanpa mengenal satu sama lain. Bahkan hal tersebut berdampak dan menyebabkan generasi muda Indonesia kehilangan identitas dan tidak mengenal budayanya sendiri. Tentunya hal ini akan sangat disayangkan, apalagi jika generasi muda tidak mengetahui kebudayaan dan asal-usul adat istiadat tempat mereka dilahirkan yang seharusnya sudah melekat dalam dirinya.

Padahal keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia adalah suatu kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia yang tentu tidak dimiliki oleh bangsa lain. Oleh karena itu, kekayaan budaya tersebut harus dilestarikan. Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010 dengan keragaman budayanya masing-masing; mulai dari bahasa daerah, rumah adat, makanan khas daerah, senjata tradisional, tarian, lagu daerah, alat dan upacara adat. Artinya, Indonesia memiliki keragaman budaya tradisional yang merupakan potensi luar biasa untuk menjadi sumber inspirasi (Hendriana Werdhaningsih, 2017). Namun, predikat ini memberikan problematika tersendiri yaitu permasalahan yang serius terkait budaya.

Salah satu yang menjadi akar dari permasalahan budaya di Indonesia adalah pengaruh globalisasi yang tidak bisa dielakkan. Arus globalisasi yang berkembang sangat pesat menyebabkan maraknya budaya asing masuk ke Indonesia. Melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia saat ini lebih memilih kebudayaan asing dengan anggapan kebudayaan asing lebih menarik ataupun lebih unik dan praktis. Hal ini menimbulkan ketakutan bagi masyarakat karena akan mengancam kelestarian budaya yang sudah diberikan Tuhan dan diturunkan oleh nenek moyang, sehingga menjaga budaya adalah salah satu tugas utama kita (Djulfikri, 2017).

Eksistensi aplikasi digital di masa pandemi sangat baik seiring dengan tingkat penggunaan media sosial yang meningkat. Menurut laporan perusahaan media asal Inggris, We Are Social mengungkapkan laporan "Digital 2021: The Latest Insights Inti The State of Digital" yang diterbitkan pada 11 Februari 2021


 

 

dimana memaparkan pola pemakaian media sosial di sejumlah negara termasuk di Indonesia. Per Januari 2021 pengguna internet di Indonesia tercatat mencapai 202,6 juta dengan tingkat penetrasi 73,7%. Dari total 202,6 juta pengguna internet di Indonesia, 96,4% di antaranya menggunakan smartphone untuk mengakses internet. Kemudian berdasarkan aplikasi yang paling banyak digunakan, secara berurutan posisi pertama adalah YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, lalu Twitter. Artinya terdapat peluang untuk menggunakan aplikasi digital di masa pandemi.

Berangkat dari permasalahan tersebut penulis mengajukan gagasan inovatif yang bertajuk Lovindo: Inovasi Aplikasi Digital Budaya Indonesia Sebagai Upaya Rekontruksi Krisis Perilaku Dan Pemahaman Masyarakat Dalam Bingkai Kebudayaan Indonesia Era Pandemi. Diskriminasi ras yang menjadi-jadi lantaran adanya pandemi. Karena budaya merupakan identitas dan aset bangsa yang perlu dijaga dan dilestarikan agar keaslian dan eksistensinya tidak terkikis oleh Tindakan diskriminasi sekaligus arus globalisasi, sehingga diharapkan melalui pemanfaatan aplikasi digital dapat membantu dalam hal pembelajaran budaya Indonesia untuk anak-anak sekolah khususnya, dan masyarakat umumnya untuk lebih mengenal macam-macam kebudayaan yang ada di Indonesia melalui media aplikasi digital. Aplikasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai media alternatif yang interaktif selain buku, sehingga menarik minat masyarakat, terutama anak-anak.

Pembahasan

Selayang Pandang Gagasan Lovindo

Tingginya penyebaran virus Corona mendorong pemerintah untuk menerbitkan sejumlah kebijakan, seperti; social distancing, PSBB, work from home, lockdown, bahkan PPKM. Dari beberapa kebijakan tersebut, memicu adanya beberapa masalah, salah satunya terkait sosial-budaya masyarakat, seperti diskriminasi ras. Tindakan diskriminasi semain meningkat lantaran adanya pandemi. Berkaitan dengan permasalahan tersebut tercermin pada sikap curiga satu sama lain yang mulai terlihat. Hal tersebut dikarenakan lantaran adanya pandemi yang mendorong masyarakat untuk mengurung dan berdiam diri saja di


 

 

rumah, tanpa bersosialisasi dengan orang lain, tanpa mengenal satu sama lain. Bahkan hal tersebut berdampak dan menyebabkan generasi muda Indonesia kehilangan identitas dan tidak mengenal budayanya sendiri. Pengaruh adanya globalisasi dan pandemi, kebudayaan lokal banyak yang luntur akibat dari kurangnya generasi penerus yang mengetahui budaya sendiri. Tentunya hal ini akan sangat disayangkan, apalagi jika generasi muda tidak mengetahui kebudayaan dan asal-usul adat istiadat tempat mereka dilahirkan yang seharusnya sudah melekat dalam dirinya. Perlunya kesadaran akan pentingnya budaya lokal. Karena selain warisan, budaya inilah yang menyatukan masyarakat dari sabang sampai Merauke. Sehingga timbul kewajiban bagi setiap lapisan masyarakat untuk menjaga, melestarikan dan mempertahankannya, serta peran generasi muda sangat diharapkan untuk terus berusaha mewarisi budaya lokal yang akan menjadi kekuatan bagi eksistensi budaya lokal itu sendiri.

Berdasarkan permasalahan tersebut penulis mengajukan gagasan solusional, yaitu Lovindo. Aplikasi ini dapat digunakan sebagai media alternatif yang interaktif untuk mengenal macam-macam kebudayaan yang ada di Indonesia. Inovasi ini sangat memudahkan anak-anak sekolah khususnya, dan masyarakat umumnya dalam mempelajari kebudayaan Indonesia. Karena eksistensi aplikasi digital sangat serta tingginya angka pengguna internet di Indonesia, maka penulis dalam memberikan informasi terkait sejumlah kebudayaan menggunakan aplikasi digital berbasis sosial media. Melalui hubungan kerja sama dengan berbagai sosial media dengan jumlah pengguna yang tinggi di Indonesia maka penerapan gagasan ini dapat dengan mudah diimplementasikan. Adapun fitur dalam Lovindo mudah dipahami sehingga mampu mengoptimalkan aksesibilitas aplikasi terhadap daya guna masyarakat. Aplikasi ini terdiri dari teks, gambar, suara dan video. Kemudian dipublikasikan dalam bentu file yang berekstensi apk. Sehingga untuk menggunakan aplikasi ini harus mempunyai perangkat android minimum versi 2.3 dan diinstall terlebih dahulu.

Dalam mengoperasikan Lovindo dimulai dengan pembuatan akun melalui Menu Daftar. Jika sebelumnya user sudah memiliki akun, maka dapat langsung


 

 

memasukkan username dan password. Cara lain juga bisa dengan masuk melalui Facebook. Untuk pengguna yang lupa sandinya, user bisa secara langsung mengklik pada lupa kata sandi, sehingga aplikasi akan secara otomatis mengarahkan user untuk login dan mereset kata sandi baru melalui email

Pada aplikasi Lovindo ini terdapat menu utama, yaitu, Informasi Mengenai Kebudayaan di Daerah. Di sini terdapat beberapa jenis budaya yang dapat dipilih, yaitu upacara adat, suku, rumah adat, lagu daerah, tarian tradisional, pakaian adat, seni dan budaya daerah, senjata tradisional, dan alat music tradisional. Jika sudah memilih salah satu dari jenis budaya tersebut, user menginput di kotak pencarian, provinsi mana yang akan dicari kebudayaannya, lalu akan ditampilkan informasi sesuai provinsi tersebut. Kemudian pada menu daerah yang sedang anda kunjungi memanfaatkan fitur pengaktifan lokasi. Dimana aplikasi Lovindo ini akan memberikan informasi secara langsung terkait kebudayaan setempat sesuai dengan lokasi user terkini. Pada menu ini, user akan mendapat sejumlah informasi lain seperti pada pilihan warung makanan tradisional, toko oleh-oleh, dan produk khas popular. Hal ini tentu akan memudahkan seseorang saat sedang bepergian ke tempat lain terutama berkaitan dengan kuliner khas apa saja yang ada di lokasinya. Sehingga melalui aplikasi nantinya akan terhubung secara langsung dengan warung makanan tradisional, toko oleh-oleh, dan produk khas wilayah tersebut yang bisa diakses secara langsung oleh user. Tujuannya ditampilkannya menu untuk memilih warung makanan tradisional adalah untuk membantu perekonomian masyarakat setempat melalui berbagai UMKM, toko oleh-oleh, kedai kuliner khas dari suatu daerah, khususnya teruntuk para pekerja sektor informal.

Selain itu, Lovindo juga menyediakan quiz dan games, hal tersebut dimaksudkan agar setelah pembelajaran budaya, user secara langsung bisa mengetahui seberapa jauh tingkat pemahaman terhadap budaya yang ada. Dengan sistem games tebak budaya, agar menjadi suatu alternatif dalam pembelajaran budaya yang menarik dan tidak monoton.

Lovindo dalam pengimplementasiannya memerlukan kolaborasi dukungan dari berbagai pihak. Beberapa pihak tersebut saling bersinergi dalam menjalankan


 

 

strategi implementasi Lovindo yang dibagi menjadi beberapa tahap yaitu, tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Berikut ini rincian dari strategi implementasi program Lovindo.

Tahapan Implementasi Lovindo:

1.       Tahap Persiapan

Tahapan ini meliputi izin pelaksanaan program kepada pemerintah, sosialisasi dan kerja sama dengan mitra, pembuatan aplikasi, uji perdana program, serta sosialisasi kepada masyarakat.

2.       Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini dilakukan yaitu implementasi program Lovindo.

3.       Tahap Evaluasi

Setelah tahap persiapan dan pelaksanaan, maka dibutuhkan bahan evaluasi dan perbaikan agar program dapat berjalan sesuai rencana dan mencapai keberhasilan.

 

KESIMPULAN

Pengaruh adanya pandemic dan globalisasi, kebudayaan lokal semakin tidak dikenal, mengingat terbatasnya pembelajaran dan pelestarian di era pandemi. Mengatasi hal ini penulis mewarkan gagasan solusional yaitu Lovindo. Aplikasi ini dapat digunakan sebagai media alternatif yang interaktif untuk mengenal macam-macam kebudayaan yang ada di Indonesia. Inovasi ini sangat memudahkan anak-anak sekolah khususnya, dan masyarakat umumnya dalam mempelajari kebudayaan Indonesia. Beberapa informasi yang tersedia terkait jenis budaya lokal di aplikasi ini, yaitu upacara adat, suku, rumah adat, lagu daerah, tarian tradisional, pakaian adat, seni dan budaya daerah, senjata tradisional, dan alat musik tradisional. Penerapan Lovindo membutuhkan sinergitas yang optimal dari pihak-pihak terkait agar membuat Lovindo dapat maksimal mencapai tujuannya direalisasikan.


 

 

DAFTAR PUSTAKA

Lauren, G. (2013). ‘Rancang Bangun Aplikasi Pembelajaran Budaya Indonesia Untuk Anak Sekolah Dasar Berbasis Android’. Jurnal Ilmiah KOMPUTASI, vol. 12, no. 2, hh. 1-10.

Nahak, H. (2019). ‘Upaya Melestarikan Budaya Indonesia Di Era Globalisasi’.

Jurnal Sosiologi Nusantara. vol. 5, no. 1, hh. 165-176

We Are Social. (2021). Digital 2021: The Latest Insights Inti The State of Digital. Laporan Riset, Inggris.

Widodo, A. (2020). Pandemi dan Bentuk Diskriminasi Baru: Sebuah Kritik Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Menghadapi Wabah Covid-19 Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman, vol. 7, no 2.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRANSFORMASI KERUANGAN DI KOTA YOGYAKARTA: ANALISIS PERMASALAHAN IDENTITAS TEMPAT DAN DEGRADASI MEMORI KOLEKTIF TERHADAP TATA RUANG DI YOGYAKARTA

Stalgy System (Social Digital Technology System) Inovasi Pemanfaatan Barang Tidak Terpakai Berbasis Platform Sebagai Upaya Meminimalisir Perubahan Iklim [ Karya Esai Nusantara Berkarya 2021 ]

Upaya Integrasi Perilaku Konservasi Dan Pro Energi Terbarukan Di Kepulauan Bangka Belitung Sebagai Bentuk Mitigasi Perubahan Iklim Untuk Mengatasi Fenomena Destabilisasi Cuaca Global [ Juara 3 Karya Esai Nusantara Berkarya 2021 ]